
Membaca Alquran adalah ibadah yang sangat mulia. Namun, kualitas bacaan juga punya peran besar dalam menentukan keberkahan dan pahala yang didapat. Banyak orang rajin membaca, tetapi belum tentu membacanya dengan cara yang dianjurkan dalam Alquran.
Allah SWT secara jelas memerintahkan agar Alquran dibaca secara tartil, bukan tergesa-gesa dan asal cepat. Tartil bukan hanya soal pelafalan, tapi juga tentang adab, ketenangan, dan penghayatan terhadap setiap ayat yang dibaca.
Mengapa Membaca Alquran Harus Dilakukan Secara Tartil?
Perintah membaca Alquran secara tartil tertuang langsung dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4: “Wa rattilil qur’āna tartīlā”, yang berarti membaca Alquran dengan pelan, jelas, dan teratur. Ayat ini menunjukkan bahwa cara membaca Alquran memiliki nilai ibadah tersendiri.
Tujuan membaca Alquran secara tartil bukan sekadar memperindah bacaan, tetapi agar Alquran benar-benar hadir dalam hati dan kehidupan sehari-hari. Tartil membantu pembaca lebih fokus, terhindar dari kesalahan, serta membuka pintu pahala yang lebih luas.
Tujuan Kenapa Membaca Alquran Harus Tartil
Berikut beberapa tujuan membaca Alquran secara tartil yang penting untuk dipahami.
1. Memahami Makna Ayat

Salah satu tujuan membaca Alquran secara tartil adalah agar setiap ayat bisa dipahami dan direnungkan maknanya. Bacaan yang pelan dan tertata memberi kesempatan bagi hati untuk menangkap pesan Allah, sehingga Al-Quran tidak hanya dibaca, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ulama seperti Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa tartil berarti memperjelas huruf, membaca dengan fasih, dan menghayati isi ayat. Inilah yang mendorong lahirnya tadabbur, sebagaimana Allah mengingatkan agar manusia mau merenungi Al-Quran, bukan sekadar membacanya.
2. Menghindari Kesalahan Bacaan

Tujuan membaca Alquran secara tartil berikutnya adalah menjaga bacaan agar terhindar dari kesalahan. Tartil menekankan ketepatan makhraj dan hukum tajwid, sehingga makna ayat tetap terjaga. Kesalahan bacaan yang mengubah arti tentu sangat dihindari dalam membaca kalam Allah.
Ali bin Abi Thalib RA menjelaskan bahwa tartil adalah membaca dengan tajwid yang benar serta memahami tempat berhenti yang tepat. Bahkan bagi yang masih terbata-bata, Rasulullah SAW menjanjikan pahala berlipat atas usaha mereka.
3. Memperoleh Syafaat di Akhirat

Membaca Al-Quran bukan hanya untuk dunia, tetapi juga bekal akhirat. Salah satu tujuan membaca Alquran secara tartil adalah agar Alquran menjadi pemberi syafaat di hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Al-Quran akan datang sebagai penolong bagi orang-orang yang membacanya. Bacaan yang dilakukan dengan tartil menunjukkan kesungguhan dan kedekatan dengan Al-Quran, sehingga layak menjadi perisai dan pelindung di akhirat kelak.
4. Membersihkan Hati dan Jiwa

Tujuan membaca Alquran juga berkaitan erat dengan kesehatan hati. Membaca Al-Quran secara tartil menghadirkan ketenangan dan membersihkan jiwa dari noda dosa. Bacaan yang pelan dan indah membuat hati lebih tenang, jauh dari kegelisahan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hati bisa berkarat, dan salah satu cara membersihkannya adalah dengan membaca Al-Quran. Tartil membantu proses ini karena bacaan tidak terasa melelahkan, justru menenangkan.
Baca Juga: Inilah Rahasia Ketenangan Orang Membaca Alquran Setiap Hari
5. Mengangkat Derajat

Allah SWT menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang dekat dengan Al-Quran. Tujuan membaca Alquran secara tartil adalah meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.
Bacaan yang disertai pemahaman dan penghayatan akan bernilai lebih, karena tidak hanya melibatkan lisan, tetapi juga hati. Setiap huruf tetap bernilai pahala, bahkan dilipatgandakan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW.
6. Menghormati Kalam Allah

Membaca Al-Quran secara tartil adalah wujud penghormatan terhadap wahyu Allah. Salah satu tujuan membaca Alquran adalah menempatkan Al-Quran pada posisi yang mulia, bukan dibaca terburu-buru atau sekadar mengejar banyaknya halaman.
Dengan tartil, seorang hamba menunjukkan adab dan rasa ta’zim terhadap kalam Ilahi, meskipun belum sepenuhnya memahami arti setiap ayat.
7. Mendapat Pahala Berlipat

Salah satu tujuan membaca kitab suci Alquran secara tartil yang paling memotivasi banyak orang adalah pahala yang berlipat ganda. Setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat atau lebih.
Tartil membuat pahala semakin maksimal karena bacaan dilakukan dengan niat yang benar, tajwid yang tepat, serta suara yang terjaga. Inilah keutamaan besar bagi siapa saja yang ingin menjadikan Al-Quran sebagai amalan harian.
Langkah Praktis Membaca Alquran dengan Tartil
Agar lebih mudah diterapkan, latihan bisa dilakukan secara sederhana setiap hari selama 15–30 menit tanpa perlu terburu-buru.
- Kuasai Huruf Hijaiyah
Langkah awal yang penting adalah mengenal dan melatih pengucapan 28 huruf hijaiyah dengan benar. Fokuskan pada makhraj huruf, misalnya membedakan bunyi “ain” dan “hamzah” atau “dzal” dan “zai”. Latihan sebaiknya dilakukan tanpa harakat terlebih dahulu agar pelafalan lebih jelas.
Ulangi setiap huruf secara perlahan sekitar 10 kali, sambil memperhatikan posisi lidah dan bibir, misalnya dengan bantuan cermin. Tahapan ini menjadi pondasi utama agar bacaan terhindar dari kesalahan.
- Pelajari Tajwid Dasar
Setelah pengucapan huruf mulai terbiasa, lanjutkan dengan mempelajari tajwid dasar. Mulailah dari hukum yang paling sering muncul, seperti nun sukun dan tanwin, mim sukun, serta mad thabi’i yang dibaca dua harakat.
Untuk membantu pemahaman, gunakan buku tajwid atau aplikasi Al-Quran digital yang menyediakan contoh audio. Praktikkan langsung pada surat-surat pendek di Juz 30, satu hukum per hari, hingga benar-benar lancar sebelum berpindah ke materi berikutnya.
- Latih Tempo Bacaan yang Lambat
Tartil identik dengan bacaan yang tenang dan tidak tergesa-gesa. Cobalah membaca surat pendek seperti QS. Al-Ikhlas dengan tempo pelan, memperhatikan panjang mad dan tempat berhenti yang tepat.
Beri jeda napas di setiap waqaf agar bacaan terasa lebih tertata. Targetkan sekitar satu menit untuk satu ayat agar makna ayat bisa lebih dirasakan. Rasulullah SAW sendiri membaca Al-Quran dengan ritme yang seimbang, tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat.
- Rutin Muraja’ah Setiap Hari
Agar bacaan semakin stabil, lakukan muraja’ah atau pengulangan secara rutin. Cukup ulang satu halaman setiap hari, lalu dengarkan kembali bacaan sendiri untuk mengevaluasi bagian yang masih perlu diperbaiki.
Agar lebih alami, bacaan juga bisa dipraktikkan dalam shalat. Dengan konsistensi selama dua hingga tiga bulan, kebiasaan membaca Al-Quran secara tartil akan terbentuk secara perlahan namun mantap.
Baca Juga: Hukum Membaca Alquran Dengan Tartil Adalah? Ini Penjelasannya
Menanamkan Tartil Sejak Usia Dini
Jika tujuan membaca Alquran secara tartil begitu besar, maka kebiasaan ini sangat baik ditanamkan sejak anak-anak. Anak yang terbiasa membaca Alquran dengan tartil akan tumbuh dengan akhlak Qurani, ketenangan jiwa, serta karakter yang kuat.
Bagi ayah dan bunda yang ingin memberikan pendidikan terbaik, SD OSB School hadir sebagai SD Islam berbasis Quranic, leadership, dan entrepreneurship. Di sini, anak-anak tidak hanya belajar membaca Alquran, tetapi juga dibimbing menjadi pribadi beriman, berani memimpin, dan siap menghadapi masa depan.
Yuk, Daftarkan putra-putri ayah dan bunda ke SD OSB School sekarang, dan mulailah perjalanan pendidikan yang menjadikan Alquran sebagai fondasi hidup sejak dini.
