
Apakah saat haid bisa membaca Alquran? Pertanyaan ini sering muncul karena haid memiliki ketentuan khusus dalam ibadah. Para ulama memiliki perbedaan pendapat (ikhtilaf) mengenai hal ini. Mayoritas ulama melarang wanita haid membaca Alquran secara lisan, sedangkan sebagian lainnya membolehkan dalam kondisi tertentu.
Lantas, bagaimana hukum membaca Alquran saat haid menurut para ulama? Simak penjelasannya berikut ini.
Pendapat Ulama tentang Membaca Alquran Saat Haid
Pembahasan mengenai apakah saat haid bisa membaca Alquran telah menjadi bagian dari kajian fikih sejak masa ulama terdahulu. Perbedaan pendapat muncul karena adanya perbedaan dalam menilai dalil dan cara menerapkannya.
Secara umum, terdapat dua pendapat besar. Pendapat pertama berasal dari mayoritas ulama yang melarang tilawah secara lisan. Sementara itu, pendapat kedua memberikan kebolehan dengan syarat atau alasan tertentu.
1. Pendapat Jumhur Ulama (Tidak Membolehkan Tilawah Lisan)

Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali berpandangan bahwa wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan membaca Alquran secara lisan.
Larangan tersebut berlaku untuk membaca Alquran dengan maksud tilawah, baik ayat yang dibaca sedikit maupun banyak. Namun, dalam kondisi tertentu seperti khawatir lupa hafalan, sebagian ulama memberikan pengecualian atau keringanan.
Salah satu dalil yang sering dijadikan dasar dari pertanyaan apakah saat haid bisa membaca Alquran adalah hadis yang dinisbatkan kepada Ibnu Umar RA:
لا يقرأ الجنب ولا الحائض القرآن
Artinya: “Orang yang junub dan wanita yang haid tidak membaca Alquran.”
Hadis tersebut digunakan oleh sebagian ulama sebagai landasan untuk melarang tilawah bagi wanita yang sedang haid. Haid dan junub sama-sama termasuk keadaan hadas besar, meskipun keduanya memiliki ketentuan fikih yang berbeda.
Selain itu, terdapat riwayat dari Ali bin Abi Thalib RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca Alquran dalam berbagai keadaan, kecuali ketika beliau berada dalam kondisi junub. Sebagian ulama kemudian menggunakan riwayat tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam pembahasan wanita haid.
Para ulama juga memberikan perhatian besar terhadap adab ketika berinteraksi dengan Alquran. Salah satu ayat yang sering dibahas dalam konteks ini adalah QS. Al-Waqi’ah ayat 79:
“Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali orang-orang yang disucikan.”
Pendapat yang melarang tilawah lisan bagi wanita haid juga dipegang oleh sejumlah ulama kontemporer, termasuk Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Lajnah Daimah.
Berdasarkan pandangan ini, wanita haid dapat mengganti tilawah dengan mendengarkan bacaan Alquran, membaca maknanya, atau membaca dalam hati tanpa melafalkannya.
2. Pendapat Ulama yang Membolehkan

Di sisi lain, jawaban mengenai apakah saat haid bisa membaca Alquran tidak selalu berakhir pada larangan.
Sebagian ulama justru membolehkan wanita haid membaca Alquran, terutama ketika terdapat kebutuhan tertentu. Salah satu pendapat tersebut dikenal dalam mazhab Maliki.
Dalam kondisi seperti menjaga hafalan, mengajar Alquran, belajar, atau menghadapi ujian hafalan, wanita haid diberikan keringanan untuk tetap membaca Alquran.
Pendapat yang lebih longgar juga dinisbatkan kepada mazhab Zhahiri, khususnya Ibnu Hazm. Beliau berpendapat bahwa wanita haid boleh membaca Alquran karena menurutnya tidak terdapat dalil shahih yang cukup kuat untuk memberikan larangan secara mutlak.
Beberapa ulama kontemporer juga memberikan keringanan. Misalnya, Syekh Abdul Aziz bin Baz membolehkan wanita haid membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf, seperti membaca dari hafalan atau menggunakan perangkat digital.
Dengan demikian, pembahasan apakah saat haid bisa membaca Alquran memang memiliki ruang perbedaan pendapat. Ada ulama yang melarang tilawah lisan dan ada pula yang membolehkannya berdasarkan dalil dan kebutuhan tertentu.
Baca Juga: Wajib Tahu! Inilah Hukum Membaca Alquran Bagi Wanita Haid
Mengapa Para Ulama Berbeda Pendapat?
Perbedaan pendapat dalam masalah fikih bukanlah sesuatu yang aneh. Hal tersebut dapat terjadi karena ulama memiliki metode berbeda dalam memahami dan menilai sebuah dalil.
Dalam persoalan apakah saat haid bisa membaca Alquran, salah satu pembahasannya berkaitan dengan kekuatan hadis yang digunakan sebagai dasar larangan.
Sebagian ulama menilai hadits tentang larangan tersebut dapat dijadikan hujah. Sementara ulama lainnya menilai hadis tersebut tidak cukup kuat untuk menetapkan hukum haram.
Selain itu, terdapat perbedaan dalam mengqiyaskan kondisi haid dengan junub. Wanita yang junub dapat segera bersuci dengan mandi wajib, sedangkan haid berlangsung selama beberapa hari. Karena itu, sebagian ulama melihat adanya kebutuhan bagi wanita haid untuk tetap dapat membaca Alquran, khususnya bagi penghafal, guru, atau pelajar.
Perbedaan cara memahami dalil inilah yang kemudian melahirkan beberapa pendapat dalam fikih.
Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat?
Setelah mengetahui berbagai pandangan tersebut, mungkin muncul pertanyaan, lantas pendapat mana yang sebaiknya diikuti?
Dalam persoalan apakah saat haid bisa membaca Alquran, seorang muslimah dapat mengikuti pendapat ulama atau mazhab yang menjadi rujukan di lingkungan tempat tinggalnya.
Di Indonesia, mazhab Syafi’i cukup dominan. Dalam mazhab ini, wanita haid umumnya tidak diperbolehkan membaca Alquran dengan tujuan tilawah secara lisan.
Karena itu, jika ingin mengambil pendapat yang lebih hati-hati, seorang muslimah dapat menghentikan sementara tilawah lisan dan menggantinya dengan aktivitas Qur’ani lainnya.
Namun, jika terdapat kebutuhan tertentu seperti mengajar, belajar, mengikuti ujian tahfiz, atau khawatir hafalan hilang, terdapat ulama yang memberikan keringanan untuk membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf.
Jadi, perbedaan ini sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Jika masih merasa ragu, berkonsultasilah dengan ustaz atau guru yang dipercaya agar dapat mengikuti pendapat yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Aktivitas Qur’ani yang Tetap Bisa Dilakukan Saat Haid
Meskipun ada perbedaan mengenai apakah saat haid bisa membaca Alquran, bukan berarti hubungan seorang muslimah dengan Alquran harus terhenti selama masa haid.
Ada banyak aktivitas yang tetap bisa dilakukan untuk menjaga kedekatan dengan kitab suci.
- Mendengarkan Murottal Alquran
Mendengarkan bacaan Alquran menjadi salah satu pilihan yang dapat dilakukan. Anda bisa memutar murattal sambil beraktivitas di rumah, belajar, atau beristirahat.
- Membaca Terjemahan dan Tafsir
Masa haid juga dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman terhadap isi Alquran. Membaca terjemahan dan tafsir membantu kita tidak hanya mengenal ayat, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
- Membaca Alquran dalam Hati
Sebagian ulama membolehkan wanita haid membaca ayat Alquran dalam hati tanpa melafalkannya dengan lisan. Cara ini dapat menjadi alternatif bagi muslimah yang ingin tetap mengingat hafalan.
- Memperbanyak Dzikir dan Doa
Wanita haid juga tetap dapat memperbanyak dzikir, istighfar, shalawat, dan doa. Beberapa doa bahkan bersumber dari ayat-ayat Alquran, selama tidak dimaksudkan sebagai aktivitas tilawah menurut pendapat ulama yang membedakan antara membaca untuk doa dan membaca untuk tilawah.
Baca Juga: Bolehkah Membaca Alquran Pakai Celana Pendek? Ini Uraiannya
Ajarkan Anak Dekat dengan Alquran Sejak Dini Bersama SD OSB School
Pembahasan tentang apakah saat haid bisa membaca Alquran menunjukkan bahwa belajar Alquran bukan hanya tentang kemampuan membaca. Anak juga perlu dibimbing untuk memahami adab, fiqih, dan bagaimana menerapkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Ayah dan Bunda dapat mulai membangun kedekatan putra-putri dengan Alquran sejak usia sekolah.
SD OSB School hadir sebagai sekolah Islam yang mengembangkan pendidikan melalui tiga pilar utama, yaitu Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship. Anak tidak hanya diarahkan untuk dekat dengan Alquran, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang memiliki karakter, jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan semangat berwirausaha.
Melalui lingkungan belajar yang mendukung, anak dapat tumbuh dengan fondasi agama yang kuat sekaligus memiliki bekal untuk menghadapi tantangan masa depan.
Mari bantu buah hati kita untuk tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Alquran, berkarakter, percaya diri, serta siap menjadi pemimpin di masa depan bersama SD OSB School!
