Membaca Alquran Dinilai dengan Kualitas, Bukan Kecepatan

membaca alquran dinilai dengan

Terkadang, saat membaca alquran, banyak orang menargetkan untuk cepat khatam alquran. Karena, saat kita sering mengkhatamkan alquran, rasanya semakin puas. 

Tidak sedikit pula yang membuat jadwal ketat, sehari satu juz, bahkan lebih. Semangat ini tentu baik. Namun di sisi lain, ada satu hal penting yang sering terlewat, bahwa membaca Alquran dinilai dengan kualitas, bukan kecepatan semata.

Artinya, ukuran utama tilawah bukan hanya seberapa banyak halaman yang selesai, melainkan bagaimana bacaan itu dilantunkan. Apakah tajwidnya tepat, makhraj hurufnya jelas, tartilnya terjaga, dan yang paling dalam, apakah ayatnya sampai ke hati.

Dari sinilah para ulama sejak dulu menekankan bahwa kualitas bacaan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar kuantitas.

Mengapa Membaca Alquran Dinilai dengan Kualitas

Jika direnungkan, Al-Qur’an bukanlah buku bacaan biasa. Ia adalah kalamullah yang setiap hurufnya bernilai ibadah. Maka wajar jika cara membacanya pun tidak boleh sembarangan. Ketika seseorang membaca dengan tergesa, sering kali ada huruf yang “tertelan”, panjang pendek tidak tepat, bahkan makna bisa berubah tanpa disadari.

Sebaliknya, saat dibaca perlahan, setiap huruf keluar dari makhrajnya, hukum tajwid terjaga, dan ayat memiliki ruang untuk direnungi. Di sinilah letak keutamaannya. Membaca Alquran dinilai dengan kesungguhan menjaga adab tilawah, bukan sekadar mengejar selesai.

Allah sendiri memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca dengan tartil, sebagaimana firman-Nya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan dan benar).”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa membaca perlahan, jelas, dan penuh penghayatan lebih diutamakan daripada cepat namun minim perhatian pada kaidah bacaan.

Kualitas lebih Bernilai 

Para sahabat dan ulama salaf sudah lama mencontohkan prinsip ini. Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan perumpamaan yang sangat indah.

Beliau menjelaskan bahwa membaca dengan tartil dan tadabbur ibarat bersedekah permata mahal, sedangkan membaca cepat tanpa penghayatan seperti bersedekah dirham biasa. Keduanya berpahala, tetapi nilainya jelas berbeda.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu juga pernah menasihati bahwa membaca satu surat dengan pemahaman lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an dalam semalam tanpa penghayatan. 

Nasihat ini menunjukkan bahwa membaca Alquran dinilai dengan kedalaman interaksi hati, bukan hanya durasi atau jumlah halaman.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahkan mengingatkan agar Al-Qur’an tidak dibaca seperti syair yang dilantunkan terlalu cepat. Beliau menekankan pentingnya berhenti pada ayat-ayat yang menyentuh hati, agar lahir rasa kagum, takut, dan harap kepada Allah.

Memahami Tingkatan Kecepatan Membaca

Dalam ilmu tajwid, kecepatan membaca sebenarnya memiliki tingkatan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang membaca cepat, selama kualitas tetap terjaga.

Pertama adalah At-Tahqiq, yaitu membaca sangat perlahan dan penuh kehati-hatian. Biasanya digunakan oleh pemula yang sedang belajar makhraj dan sifat huruf. Fokusnya bukan banyaknya bacaan, tetapi ketepatan pelafalan.

Lalu ada At-Tartil, tingkatan yang paling ideal. Bacaan mengalir pelan, jelas, dan indah. Tajwid terjaga, waqaf diperhatikan, dan ayat mudah direnungi. Inilah praktik langsung dari perintah QS Al-Muzzammil ayat 4.

Berikutnya At-Tadwir, yakni kecepatan sedang. Bacaan sudah lebih dinamis, tetapi tetap menjaga hukum tajwid. Biasanya digunakan oleh mereka yang sudah lancar.

Terakhir Al-Hadr, yaitu membaca cepat. Tingkatan ini lazim dipakai untuk muraja’ah hafalan. Meski cepat, tajwid tetap wajib dijaga agar makna tidak berubah.

Dari pembagian ini terlihat jelas bahwa membaca Al quran dinilai dengan kualitas di setiap levelnya. Cepat boleh, asal tidak merusak bacaan.

Kualitas dan Kuantitas, Bukan untuk Dipertentangkan

Menariknya, para ulama tidak sepenuhnya menafikan kuantitas. Keduanya justru saling melengkapi. Bagi ulama besar yang sudah sangat kuat tajwid dan hafalannya, memperbanyak khataman menjadi bentuk ibadah luar biasa. Imam Syafi’i misalnya, diriwayatkan mampu khatam puluhan kali dalam Ramadan.

Namun bagi kebanyakan umat, terutama yang masih belajar, kualitas harus didahulukan. Sebab ada dua pahala sekaligus: pahala membaca dan pahala memperbaiki bacaan.

Idealnya, keduanya berjalan beriringan. Banyak membaca, tetapi tetap tartil. Rutin tilawah, namun tidak tergesa. Dengan begitu, membaca Alquran dinilai dengan keseimbangan antara jumlah dan mutu bacaan.

Cara Meningkatkan Kualitas Bacaan

Berikut empat cara untuk meningkatkan kualitas bacaan alquran kita.

1. Kuasai Ilmu Tajwid

membaca alquran dinilai dengan

Dalam praktiknya, membaca Alquran dinilai dengan ketepatan setiap huruf yang dilafalkan. Karena itu, langkah paling mendasar adalah menguasai ilmu tajwid secara menyeluruh. Mulai dari memahami makhrajul huruf, hingga mengenali sifat-sifatnya seperti qalqalah, ghunnah, maupun hukum mad.

Sebagai contoh, huruf qaf harus keluar dari pangkal tenggorokan bagian dalam, bukan dari rongga hidung. Begitu pula mad thabi’i yang wajib dipanjangkan dua harakat secara konsisten. Kesalahan kecil dalam pelafalan bisa memengaruhi makna, sehingga latihan yang berulang sangat diperlukan.

2. Baca dengan Tartil

membaca alquran dinilai dengan

Selain tajwid, membaca Alquran dinilai dengan bagaimana tempo bacaan dijaga. Tartil bukan sekadar pelan, tetapi tenang, jelas, dan penuh penghayatan. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Melalui ayat ini, kita memahami bahwa membaca terburu-buru bukanlah adab yang dianjurkan. Huruf perlu ditunaikan haknya, panjang pendek harus proporsional, dan waqaf diperhatikan.

Bagi pemula, tempo At-Tahqiq bisa menjadi latihan terbaik agar lidah terbiasa benar. Meski terasa lambat, justru di situlah kualitas terbentuk. Bahkan para sahabat menasihatkan, membaca lebih sedikit namun tartil jauh lebih utama dibanding banyak tetapi tergesa tanpa kejelasan bacaan.

Baca Juga: Mengapa Kita Harus Membaca Alquran dengan Tajwid? Simak Ini

3. Tadabbur dan Pahami Makna

membaca alquran dinilai dengan

Lebih dalam lagi, membaca Alquran dinilai dengan sejauh mana hati ikut hadir saat ayat dilantunkan. Tilawah bukan hanya aktivitas lisan, melainkan juga perjalanan batin. Karena itu, tadabbur menjadi unsur penting dalam meningkatkan kualitas.

Saat membaca ayat tentang penciptaan alam, misalnya dalam Surah Ar-Rahman, cobalah berhenti sejenak dan merenungi kebesaran Allah. Rasakan bagaimana ayat itu berbicara tentang nikmat yang sering luput disyukuri. Dengan cara ini, bacaan tidak berhenti di suara, tetapi meresap ke jiwa.

Membiasakan diri membuka tafsir ringkas setelah tilawah juga sangat membantu. Pemahaman makna membuat ayat lebih hidup dan relevan dengan keseharian. Tidak heran jika para ulama menggambarkan tadabbur seperti sedekah permata berharga — nilainya tinggi karena melibatkan hati, akal, dan keimanan sekaligus.

4. Rutin Berlatih dan Murojaah

membaca alquran dinilai dengan

Terakhir, membaca Alquran dinilai dengan konsistensi dalam menjaganya. Bacaan yang indah tidak lahir dari latihan sesekali, melainkan dari rutinitas yang terpelihara. Menyediakan waktu khusus setiap hari, meski hanya 20–30 menit setelah shalat. 

Muroja’ah juga berperan penting untuk menguatkan ingatan sekaligus melatih kefasihan. Jika ada kesempatan, bergabung dengan majelis tilawah atau kelas tahsin akan sangat membantu karena ada bimbingan dan koreksi langsung dari guru. 

Bahkan, merekam bacaan sendiri pun bisa menjadi bahan evaluasi sederhana. Dari langkah-langkah kecil yang konsisten inilah lahir bacaan yang lebih tartil, lebih khusyuk, dan semakin bernilai di sisi Allah.

Baca Juga: Alasan Membaca Alquran yang Paling Baik Adalah Secara Tartil

Mari Membiasakan Membaca Alquran dengan Tepat

Pada akhirnya, kita memahami bahwa membaca Alquran dinilai dengan kualitas yang menyeluruh, dari tajwid yang tepat, tartil yang terjaga, hingga tadabbur yang menghidupkan hati.

Ayah dan Bunda, kecintaan anak pada Al-Qur’an tidak tumbuh dalam semalam. Ia perlu dibimbing, dilatih, dan dibiasakan sejak usia dini dalam lingkungan yang tepat.

SD OSB School hadir sebagai sekolah dasar Islam yang mengintegrasikan pendidikan Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship. Anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi juga dibentuk percaya diri, berkarakter pemimpin, serta mandiri menghadapi masa depan.

Yuk, ikhtiar terbaik untuk pendidikan putra-putri dimulai dari sekarang. Daftarkan mereka di SD OSB School, dan tumbuhkan generasi Qurani yang cerdas, berakhlak, serta siap menjemput masa depan gemilang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *