
Pernah merasa bacaan Al-Qur’an kita sudah lancar, tapi masih ragu apakah sudah benar? Di sinilah pentingnya menyadari bahwa membaca alquran harus sesuai ilmu tajwid, bukan sekadar fasih di telinga, tetapi tepat di hadapan Allah. Tajwid bukan aksesoris, melainkan fondasi agar setiap huruf keluar dari makhrajnya, setiap panjang pendeknya pas, dan setiap hukum bacaan mengantarkan makna tanpa cacat.
Ulama klasik sejak dulu sepakat, jika menerapkan tajwid saat membaca Al-Qur’an adalah fardhu ain, kewajiban individu bagi setiap mukallaf. Adapun mempelajarinya secara mendalam hingga ada ahli di tengah masyarakat adalah fardhu kifayah. Kesepakatan (ijma’) ini dijaga agar wahyu suci tetap autentik dari generasi ke generasi.
Mengapa Tajwid Wajib? Ini Penjelasan Ulama Besar
Tokoh sentral dalam ilmu qira’at, Imam Ibnu Al-Jazari (w. 833 H), dengan tegas menulis dalam Muqaddimah Al-Jazariyyah:
“Membaca dengan tajwid wajib mutlak; siapa tak bertajwid berdosa, karena dengan tajwid Al-Qur’an diturunkan dan dengan tajwid pula sampai kepada kita.”
Pesan dalam kutipan kalimat tersebut sangat jelas, jika seseorang sengaja mengabaikan tajwid hingga jatuh pada lahn jaliy (kesalahan nyata yang mengubah makna), maka berdosa. Ini adalah pagar syariat agar membaca alquran harus sesuai ilmu, tidak asal lancar tetapi beresiko merusak makna alquran.
Di mazhab Syafi’i, Imam Az-Zarkasyi menegaskan tajwid sebagai fardhu ain. Dalilnya QS. Al-Muzzammil ayat 4 yang memerintahkan untuk membaca dengan tartil, bacaan tertata, jelas, dan benar. Jika di sebuah negeri tak ada yang mempelajari tajwid, seluruh penduduk menanggung dosa (gagal fardhu kifayah). Namun setiap individu tetap wajib menerapkan tajwid saat membaca.
Dalil Alquran Perintah Menggunakan Tajwid
Allah berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Ibnu Katsir menjelaskan tartil sebagai bacaan perlahan, terukur, dengan pemenuhan hak huruf. Seperti makhraj, sifat, mad, dan hukum bacaan. Inilah wujud lain dari prinsip bahwa membaca alquran harus sesuai ilmu demi menjaga kemurnian bunyi dan makna.
Alasan Membaca Alquran Harus Sesuai Ilmu Tajwid
Membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya bisa melafalkan huruf, tetapi juga harus dilakukan dengan kaidah tajwid yang benar. Inilah alasan mengapa setiap Muslim dituntut untuk tidak sekadar membaca alquran, tapi melengkapi bacaan dengan tajwid.
1. Menjaga Keaslian dan Kemurnian Bacaan

Alasan membaca alquran harus sesuai Ilmu tajwid berfungsi memastikan setiap huruf Al-Qur’an keluar dari tempatnya (makhraj) dengan sifat yang tepat, sebagaimana ketika wahyu pertama kali disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah sendiri memerintahkan dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4 agar Al-Qur’an dibaca dengan tartil, yakni perlahan, jelas, dan benar. Para mufassir seperti Ibnu Katsir menjelaskan, tartil bukan sekadar membaca pelan, tetapi membaca dengan penuh ketelitian agar makna ayat benar-benar tersampaikan.
Tanpa tajwid, bacaan berpotensi menyimpang dari qira’at mutawatir yang telah disepakati oleh umat Islam. Sejarah pun mencatat bagaimana Khalifah Utsman bin Affan menyatukan mushaf demi mencegah perbedaan bacaan yang bisa menyesatkan, sekaligus menjadi bukti betapa pentingnya menjaga keaslian Al-Qur’an.
2. Menghindari Perubahan Makna Ayat

Kesalahan dalam tajwid, terutama yang tergolong lahnul jaliy atau kesalahan yang tampak jelas, dapat berakibat fatal karena mampu mengubah arti ayat.
Misalnya, kesalahan dalam melafalkan huruf atau mengubah harakat dapat merusak struktur bahasa dan makna asli ayat. Hal seperti ini tidak boleh dianggap remeh, karena bisa mengubah pesan ilahi menjadi keliru.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 121 disebutkan tentang membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar, yang oleh banyak ulama dikaitkan langsung dengan kewajiban tajwid.
Oleh sebab itu, menjaga ketepatan bacaan melalui tajwid bukan sekadar keindahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap amanah wahyu.
3. Menjalankan Perintah Tartil dengan Sungguh-Sungguh

Perintah tartil dalam Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari praktik tajwid. Tartil mencakup kejelasan dalam pengucapan harakat, pemenuhan panjang pendek bacaan (mad), dan ketepatan dalam tasydid.
Ulama seperti As-Suyuthi dan Ad-Dani meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud pernah menegaskan agar Al-Qur’an dibaca dengan tajwid. Artinya, tajwid bukan sekadar pelengkap, tetapi jalan utama untuk menjalankan perintah tartil secara utuh.
Tanpa tajwid, bacaan mungkin terdengar benar, namun belum tentu memenuhi standar yang diajarkan Rasulullah SAW.
Baca Juga: Inilah Pengertian Membaca Alquran dengan Tartil & Tujuannya
4. Menggapai Pahala yang Lebih Sempurna

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap huruf Al-Qur’an bernilai pahala, bahkan dilipatgandakan hingga sepuluh kebaikan. Namun, pahala tersebut tentu akan lebih sempurna jika bacaan dilakukan dengan cara yang benar.
Tajwid membantu menjaga hak setiap huruf dan lafaz, sehingga bacaan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga terhindar dari kesalahan yang bisa mengurangi keutamaan.
Banyak ulama, termasuk dari kalangan qira’at dan mazhab Syafi’i, menegaskan bahwa bacaan yang sesuai tajwid adalah bentuk kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah.
5. Menciptakan Keindahan dan Kekhusyukan

Lebih dari sekadar aturan teknis, tajwid juga menghadirkan keindahan dalam bacaan Alquran dan membantu menghadirkan kekhusyukan di dalam hati. Bacaan yang tertata membuat ayat-ayat tentang kasih sayang Allah terasa menenangkan, sementara ayat-ayat peringatan menggugah kesadaran.
Inilah mengapa para ulama bersepakat bahwa mempelajari tajwid secara mendalam adalah fardhu kifayah, sedangkan membaca alquran harus sesuai ilmu tajwid adalah kewajiban individu. Dengan tajwid, ibadah membaca Al-Qur’an menjadi lebih hidup, penuh rasa hormat, dan sarat makna spiritual.
Cara Praktis Membaca Alquran Dengan Tajwid
Kalau ingin mulai memperbaiki bacaan, kamu tidak perlu menunggu sempurna dulu. Mulailah dari langkah sederhana berikut ini:
- Cari guru yang berkompeten
Usahakan belajar kepada guru yang paham makhraj dan sifat huruf, lebih baik lagi jika memiliki sanad keilmuan yang jelas. - Evaluasi bacaan sendiri
Coba rekam tilawahmu, lalu mintalah koreksi dari guru atau orang yang lebih menguasai tajwid. - Fokus pada satu kitab tajwid
Tidak perlu mempelajari banyak buku sekaligus. Pilih satu panduan yang mudah dipahami dan pelajari secara bertahap. - Luangkan waktu setiap hari
Cukup 10–15 menit per hari, asal konsisten. Membaca Al-Qur’an secara konsisten, meski hanya sedikit, lebih memberi makna dibandingkan membaca banyak ayat tetapi jarang dilakukan.
- Jaga niat dan doa
Mintalah keteguhan kepada Allah, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya akan masuk ke hati yang bersungguh-sungguh.
Dengan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, prinsip membaca Alquran harus sesuai ilmu perlahan akan berubah dari sekadar wacana menjadi kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: 5 Manfaat Membaca Ayat Suci Alquran untuk Kesehatan Mental
Mari Mulai Membaca Alquran Dengan Tajwid
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid bukan sekadar memperindah suara, tetapi menjaga kemurnian firman Allah dan menyempurnakan ibadah. Di sinilah letak pentingnya memahami bahwa membaca alquran harus sesuai ilmu, karena kualitas bacaan jauh lebih utama daripada sekadar kelancaran. Ketika tajwid dijadikan kebiasaan, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar dihayati dan diamalkan.
Menanamkan kebiasaan membaca Alquran dengan benar sejak usia dini adalah investasi akhirat yang paling berharga. Maka, memilih sekolah dasar yang fokus pada pendidikan alquran, adalah pilihan terbaik.
OSB School hadir menjadi solusi bagi orang tua yang ingin anak-anaknya tumbuh dekat dengan Al-Qur’an sejak dini. Di SD OSB School, nilai bahwa membaca alquran harus sesuai ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi dibiasakan dalam keseharian anak di sekolah.
Dengan metode homy school, setiap kelas dibatasi hanya 10 siswa agar proses belajar lebih fokus, hangat, dan maksimal. Anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an dengan benar, tetapi juga dibina dalam karakter, kepemimpinan (leadership), dan kemandirian melalui program entrepreneurship yang terarah.
