
Pernah nggak sih kita mendengar anjuran untuk membaca Alquran dengan tartil, tapi masih bertanya-tanya, sebenarnya hukum membaca Alquran dengan tartil adalah apa? Wajib, sunnah, atau sekadar anjuran saja? Pertanyaan ini cukup sering muncul, apalagi di tengah semangat tadarus dan belajar memperbaiki bacaan.
Nah, supaya nggak bingung, yuk kita bahas pelan-pelan dengan gaya santai tapi tetap berbobot. InsyaAllah setelah membaca artikel ini, kamu akan lebih paham sekaligus termotivasi untuk membaca Alquran dengan cara yang benar.
Apa Itu Tartil dalam Membaca Alquran?
Secara sederhana, tartil adalah cara membaca Alquran dengan pelan, jelas, teratur, dan tidak tergesa-gesa. Setiap huruf diucapkan dari makhraj yang tepat, panjang-pendeknya sesuai aturan, dan berhenti (waqaf) di tempat yang benar.
Tartil bukan sekadar soal teknis bacaan. Di dalamnya ada unsur tadabbur, yaitu merenungi makna ayat-ayat Alquran. Karena itu, membaca Alquran dengan tartil sangat membantu hati untuk lebih tersentuh dan memahami pesan Allah SWT.
Berbeda dengan hadr (bacaan cepat) yang biasanya dipakai untuk murajaah hafalan, tartil lebih dianjurkan untuk tilawah harian dan ibadah.
Dalil Perintah Membaca Alquran dengan Tartil
Perintah membaca Alquran dengan tartil bukan datang dari ulama semata, tapi langsung dari Allah SWT. Dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4, Allah berfirman:
“Wa rattilil Qur’āna tartīlā”
“Dan bacalah Alquran itu dengan tartil.”
Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, namun para ulama sepakat bahwa perintah tersebut juga berlaku untuk umatnya. Artinya, membaca Alquran dengan tartil bukan hal sepele, melainkan bagian dari adab dan tuntunan syariat.
Hukum Membaca Alquran dengan Tartil Menurut Ulama
Kalau bicara soal hukum membaca Alquran dengan tartil, para ulama memang memiliki beberapa sudut pandang, tapi semuanya sepakat bahwa tartil adalah cara terbaik dan paling aman dalam membaca Alquran.
1. Pendapat Jumhur Ulama

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum membaca Alquran dengan tartil adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, membaca dengan tartil berpahala besar, sementara meninggalkannya tanpa alasan yang jelas dianggap makruh.
Bagi seorang Muslim yang sudah baligh dan mampu, membaca Alquran secara asal-asalan hingga merusak huruf atau makna ayat tentu sangat tidak dianjurkan.
2. Ibnu Jazari

Ibnu Jazari, ulama besar dan pakar ilmu qira’at, memiliki pendapat yang cukup tegas. Beliau menyatakan bahwa membaca Alquran dengan tajwid, yang di dalamnya termasuk tartil adalah wajib syar’i. Dalam nadhomnya yang terkenal, beliau berkata:
“Wal akhdzu bittajwīdi ḥatmun lāzim”
“Mengambil (membaca) dengan tajwid itu kewajiban yang pasti.”
Menurut beliau, Alquran diturunkan dengan tartil. Maka, membaca tanpa tartil, terutama bagi orang yang sudah belajar dan mampu, bisa bernilai dosa karena mengubah atau merusak bacaan.
Baca Juga: Inilah Pengertian Membaca Alquran dengan Tartil & Tujuannya
3. Imam Al-Qurthubi

Menurut Imam Al-Qurthubi, hukum membaca Alquran dengan tartil adalah tuntunan penting agar bacaan menjadi jelas dan maknanya dapat direnungi dengan baik. Tartil dimaknai sebagai membaca Alquran secara perlahan, teratur, dan penuh penghayatan, bukan sekadar melafalkan huruf.
Beliau menegaskan bahwa bacaan yang terlalu dilagukan secara berlebihan justru dihukumi makruh, karena keluar dari prinsip tartib dan ketenangan yang diperintahkan syariat.
Pandangan ini diperkuat dengan dalil QS. Al-Furqan ayat 32, yang menjelaskan bahwa Alquran diturunkan secara tartil dan teratur untuk menegaskan kebenaran wahyu serta membantah anggapan kaum kafir.
4. Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hukum membaca Alquran dengan tartil adalah kewajiban dalam rangka memahami isi Alquran secara benar dan tidak tergesa-gesa. Tartil membantu pembaca menangkap pesan ayat dengan lebih jelas, sekaligus menjaga keindahan bacaan sesuai sunnah Nabi SAW, yaitu dengan suara yang indah namun tetap wajar.
Ia mengutip atsar dari Ibnu Mas’ud yang menegaskan bahwa membaca Alquran dengan tartil lebih utama dibandingkan membaca banyak ayat tetapi terburu-buru.
Pendapat ini sejalan dengan perintah Allah dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4, yang secara tegas memerintahkan agar Alquran dibaca dengan tartil.
Bagaimana Jika Membaca Alquran Tanpa Tartil?
Ini memang pertanyaan yang sering muncul dan penting untuk dipahami. Bagi seseorang yang belum mampu atau masih dalam tahap belajar, hukum membaca Alquran dengan tartil adalah tidak memberatkan. Tidak ada dosa baginya, bahkan setiap usaha memperbaiki bacaan justru bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Namun berbeda halnya bagi Muslim yang sudah mampu dan memahami kaidah bacaan. Jika ia sengaja membaca tanpa tartil hingga mengubah makhraj huruf atau makna ayat, maka hukum membaca Alquran dengan tartil adalah menjadi sangat ditekankan.
Dalam kondisi ini, meninggalkannya bisa dihukumi makruh, bahkan dosa menurut sebagian ulama, karena berpotensi merusak kemurnian bacaan Alquran. Oleh sebab itu, mempelajari tartil dan tajwid bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Selain itu, secara kolektif hukum membaca Alquran dengan tartil adalah fardhu kifayah dalam konteks mempelajari dan mengajarkannya. Artinya, harus ada sebagian umat Islam yang benar-benar menguasai ilmu tartil dan tajwid agar bacaan Alquran tetap terjaga dengan benar dan dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Langkah Utama Membaca Alquran dengan Tartil
Supaya lebih mudah dipraktikkan dalam keseharian, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Ini juga menjadi pengingat bahwa hukum membaca Alquran dengan tartil adalah tuntunan penting agar bacaan tetap benar dan bernilai ibadah.
- Baca perlahan dan tenang, jangan tergesa-gesa.
- Perhatikan makhraj dan sifat huruf, seperti gunnah, idgham, dan mad.
- Terapkan hukum tajwid dengan benar, termasuk panjang mad dan tempat waqaf.
- Atur napas dengan baik agar bacaan stabil dan jelas.
- Fokus pada makna ayat, bukan sekadar mengejar jumlah halaman.
Adab Pendukung Saat Membaca Tartil
Selain teknis bacaan, adab juga penting:
- Gunakan suara yang merdu dan sedang, tidak berlebihan.
- Lakukan sujud tilawah jika bertemu ayat sajadah.
- Biasakan tahsin dan belajar rutin dengan guru.
- Hindari bacaan cepat (hadr) untuk tilawah harian, kecuali saat hafalan.
Dengan memperhatikan adab yang baik, maka membaca Alquran terasa lebih hidup dan menyentuh hati. Baik yang membaca maupun yang mendengarnya.
Mari Biasakan Membaca Alquran Dengan Tartil
Dari seluruh penjelasan, bisa kita simpulkan bahwa hukum membaca Alquran dengan tartil adalah tuntunan yang sangat ditekankan dalam Islam.
Tartil bukan sekadar cara membaca yang baik, tetapi bentuk penghormatan terhadap Kalamullah agar setiap huruf terjaga, makna tidak berubah, dan hati mampu menangkap pesan Allah. Baik ulama yang memandangnya sebagai sunnah muakkad maupun yang mewajibkannya, semuanya sepakat bahwa tartil adalah metode terbaik dalam membaca Alquran.
Baca Juga: Inilah Berbagai Metode Membaca Alquran Agar Lancar & Tartil
Saatnya Menanamkan Cinta Alquran Sejak Dini
Nilai-nilai tartil, adab membaca Alquran, serta kecintaan terhadap Kalamullah akan lebih mudah tertanam jika diajarkan sejak usia sekolah dasar. Karena itu, memilih lingkungan pendidikan yang tepat menjadi langkah awal yang sangat penting.
SD OSB School hadir sebagai sekolah dasar Islam dengan program unggulan Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship.
Anak-anak dibimbing untuk membaca Alquran dengan tartil dan tajwid yang benar, sekaligus dilatih kepemimpinan, kemandirian, dan kreativitas sejak dini.
Proses belajar juga dibuat lebih optimal melalui kelas mini yang hanya diisi 10 siswa per kelas, sehingga pendampingan guru menjadi lebih fokus dan personal.
Jika Ayah dan Bunda menginginkan pendidikan yang menumbuhkan kecintaan pada Alquran sekaligus membentuk karakter dan potensi masa depan buah hati tercinta, SD OSB School bisa menjadi pilihan yang sangat tepat!
