
Di era digital seperti sekarang, Alquran bisa kita temui di mana saja. Dari aplikasi di ponsel, lantunan murattal di mobil, hingga suara tilawah yang menemani aktivitas rumah.
Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan yang cukup sering dibahas, apakah mendengarkan Alquran sama dengan membaca?
Mungkin pertanyaan ini, sering kali kita tanyakan, atau kita dengar dari teman atau keluarga kita. Karena realitanya, banyak orang merasa lebih sering mendengarkan Alquran karena keterbatasan waktu, kemampuan membaca, atau situasi tertentu. Lalu muncul keraguan, apakah pahala mendengarkan Alquran setara dengan membacanya secara langsung?
Nah, di artikel ini akan mengulasnya secara lengkap berdasarkan dalil Alquran, hadits, serta pandangan para ulama klasik hingga kontemporer.
Mendengarkan dan Membaca Alquran, Sama-sama Bernilai Ibadah
Hal pertama yang perlu ditegaskan, mendengarkan dan membaca Alquran sama-sama ibadah. Keduanya mendatangkan pahala besar jika dilakukan dengan niat yang benar dan hati yang hadir.
Namun, jika pertanyaannya lebih spesifik, apakah mendengarkan Alquran sama dengan membaca, maka para ulama menjelaskan bahwa meskipun sama-sama berpahala, keduanya tidak sepenuhnya setara dalam tingkat keutamaannya.
Membaca Alquran melibatkan lebih banyak anggota tubuh:
- Lisan untuk melafalkan huruf
- Mata untuk melihat mushaf
- Telinga untuk mendengar bacaan sendiri
- Hati untuk memahami dan mentadabburi
Sementara mendengarkan Alquran lebih dominan menggunakan telinga dan hati. Inilah yang menjadi dasar mengapa membaca Alquran dinilai lebih utama, meskipun mendengarkan tetap bernilai ibadah besar.
Dalil Alquran Tentang Mendengarkan Alquran
Alquran sendiri memerintahkan umat Islam untuk mendengarkan bacaan Alquran dengan penuh perhatian. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:
“Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-A’raf: 204)
Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa mendengarkan Alquran dengan khusyuk mendatangkan rahmat dan pahala. Namun, ayat ini tidak menyebutkan penggandaan pahala per huruf seperti yang disebutkan dalam hadits tentang membaca Alquran.
Hadits Tentang Keutamaan Membaca Alquran
Dalam hadits yang sangat masyhur, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini secara jelas menyebutkan kata “membaca” (qara’a), bukan mendengarkan. Artinya, pahala sepuluh kali lipat per huruf secara khusus diberikan kepada orang yang melafalkan bacaan Alquran dengan lisan.
Inilah salah satu alasan utama mengapa para ulama menyimpulkan bahwa membaca Alquran memiliki keutamaan lebih dibandingkan hanya mendengarkan.
Baca Juga: Hadits Keutamaan Membaca Alquran – Penolong Dunia & Akhirat
Tingkatan Membaca Alquran Menurut Ulama
Dalam kajian fiqh Islam, aktivitas membaca Alquran tidak hanya dinilai dari satu sisi saja. Membaca dengan lisan, mata, dan hati masing-masing dipandang sebagai bentuk ibadah yang memiliki tingkatan pahala berbeda.
Semakin banyak indra yang terlibat dan semakin hadir hati dalam prosesnya, maka semakin besar pula keutamaannya.
Karena itu, ulama fiqh, khususnya dari mazhab Syafi’i dan Hanbali menjelaskan bahwa pahala membaca Alquran akan bertambah seiring keterlibatan anggota tubuh serta kekhusyukan hati.
- Membaca dengan Lisan
Membaca Alquran dengan melafalkan huruf secara jelas adalah bentuk tilawah yang paling utama. Aktivitas ini melibatkan pengucapan langsung, yang dijanjikan pahala sepuluh kali lipat untuk setiap hurufnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.
Selain itu, menggerakkan lisan menjadi syarat sah bacaan Alquran dalam shalat, sehingga posisinya tidak bisa digantikan oleh bentuk membaca lainnya.
- Membaca dengan Mata
Membaca Alquran dengan melihat mushaf tanpa melafalkan bacaan tetap memiliki nilai pahala, meskipun tingkatannya berada di bawah membaca dengan lisan.
Dalam kondisi tertentu, seperti bagi orang yang sedang berhalangan, sebagian ulama membolehkannya. Namun, bentuk membaca ini tidak sepenuhnya menggantikan keutamaan membaca dengan pengucapan langsung.
- Membaca dengan Hati
Adapun membaca dengan hati lebih dikenal sebagai aktivitas tadabbur, yakni menghadirkan makna Alquran dalam renungan.
Bentuk ini tetap bernilai ibadah karena melibatkan kesadaran dan kehadiran hati, tetapi pahalanya dinilai paling rendah dibandingkan membaca dengan lisan.
Para ulama mengibaratkannya seperti dzikir dalam hati, yang tetap berpahala namun tidak menyamai dzikir yang diucapkan.
Pendapat Ulama Klasik dan Kontemporer
Ulama dari masa klasik hingga kontemporer memiliki pandangan yang beragam dalam menjawab pertanyaan apakah mendengarkan Alquran sama dengan membaca.
Perbedaan ini umumnya berangkat dari cara mereka memahami dalil-dalil utama, terutama ayat tentang perintah mendengarkan Alquran dalam Al-A’raf ayat 204 serta hadits yang menjelaskan keutamaan pahala membaca setiap huruf Alquran.
1. Imam Al-Qurtubi (Ulama Klasik – Tafsir Al-Jami’)

Imam Al-Qurtubi berpendapat bahwa mendengarkan Alquran dapat setara dengan membaca apabila dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan perhatian.
Beliau merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 204 yang memerintahkan untuk mendengarkan dan diam ketika Alquran dibacakan agar memperoleh rahmat.
Menurut penjelasannya, ayat ini menunjukkan bahwa pendengar yang fokus dan bertadabbur mendapatkan rahmat dan pahala yang sebanding dengan pembaca dalam konteks penghayatan makna.
2. Imam As-Suyuthi (Ulama Klasik – Al-Itqan fi Ulumil Quran)

Pandangan serupa disampaikan oleh Imam As-Suyuthi. Beliau menjelaskan bahwa mendengarkan Alquran bisa mendatangkan pahala penuh seperti membaca, terutama bagi orang yang belum mampu membaca sendiri.
Dasarnya adalah hadits riwayat Ahmad yang menyebutkan bahwa orang yang mendengarkan Alquran lalu diam dan menyimaknya akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca. Dalam konteks ini, pertanyaan apakah mendengarkan Alquran sama dengan membaca dijawab dengan penekanan pada kondisi dan niat pendengarnya.
3. Buya Yahya (Ulama Kontemporer)

Berbeda dengan pendapat sebelumnya mengenai apakah mendengarkan alquran sama dengan membaca, Buya Yahya menegaskan bahwa mendengarkan Alquran tidak sepenuhnya sama dengan membaca.
Menurut beliau, membaca Alquran lebih utama karena melibatkan banyak indra sekaligus, seperti lisan, mata, telinga, dan hati. Hadits tentang pahala sepuluh kali lipat untuk setiap huruf secara khusus ditujukan bagi orang yang membaca dengan lisan.
Sementara itu, mendengarkan tetap bernilai ibadah dan mendatangkan pahala, namun tidak disertai penggandaan pahala per huruf.
4. Syaikh Utsaimin (Ulama Kontemporer – Fatawa Islamiyah)

Syaikh Utsaimin juga menegaskan bahwa membaca Alquran memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan mendengarkannya. Menurut beliau, QS. Al-A’raf: 204 menunjukkan anjuran mendengarkan Alquran agar memperoleh rahmat, sedangkan hadits tentang pahala membaca huruf memberikan keutamaan khusus bagi pembaca.
Dengan demikian, dalam menjawab apakah mendengarkan Alquran sama dengan membaca, beliau menilai bahwa mendengarkan tetap berpahala, tetapi tingkatannya berada di bawah membaca.
5. Syaikh Al-Albani (Ulama Kontemporer – Silsilah Hadits Shahihah)

Syaikh Al-Albani secara tegas menjawab apakah mendengarkan alquran sama dengan membaca, dengan pernyataan bahwa mendengarkan Alquran tidak sama dengan membaca dalam hal pahala.
Menurut beliau, hadits-hadits shahih dari Bukhari dan Muslim menekankan kata “membaca” (qara’a) sebagai amal yang mendapatkan pahala tilawah per huruf.
Sementara pendengar memperoleh pahala kehadiran hati dan perhatian (hudhurs), yang nilainya tetap besar namun tidak setara dengan pahala pengucapan bacaan Alquran.
Baca Juga: Jangan Lakukan 5 Hal Ini Ketika Membaca Alquran! Ini Uraiannya
Jadi, Apakah Mendengarkan Alquran Sama Dengan Membaca?
Dari seluruh dalil dan pendapat ulama, bisa disimpulkan bahwa:
- Apakah mendengarkan alquran sama dengan membaca dalam hal pahala, adalah tidak sama
- Membaca Alquran lebih utama karena melibatkan lisan dan mendapatkan pahala per huruf
- Mendengarkan Alquran tetap bernilai ibadah dan mendatangkan rahmat Allah
- Keduanya saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan
Idealnya, seorang Muslim menggabungkan keduanya. Membaca Alquran secara rutin, dan mendengarkannya di sela aktivitas.
Ajak Anak Tumbuh Bersama Alquran di SD OSB School
Ayah dan Bunda, kecintaan anak pada Alquran tidak cukup hanya dengan mendengarkan. Ia perlu dibiasakan membaca, memahami, dan mengamalkannya sejak dini dalam lingkungan yang tepat.
Di SD OSB School Tangerang Selatan, anak-anak tumbuh dalam ekosistem Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship, dengan kelas unggulan maksimal 10 siswa per kelas agar pendampingan lebih fokus dan optimal. Ditambah weekly report untuk orang tua, setiap perkembangan akademik, karakter, dan ibadah anak dapat dipantau secara nyata.
Jangan Tunggu nanti. Saatnya pilih sekolah yang menyiapkan anak menjadi generasi Qurani, berkarakter, dan siap memimpin masa depan bersama SD OSB School!
