
Sebagian besar dari kita membaca Al-Quran hanya dalam satu kondisi. Duduk rapi, sudah wudhu, di waktu yang tepat. Artinya, kalau kondisi itu tidak terpenuhi, tilawah pun terlewat.
Padahal, itulah justru yang membuat amalan ini terasa berat dan tidak konsisten. Faktanya, para ulama sepakat bahwa disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan yang jauh lebih luas. Seperti berdiri, duduk, berbaring, menghadap kiblat, bahkan setelah makan sekalipun.
Nabi SAW sendiri membaca Al-Quran dalam berbagai kondisi, bukan hanya di majelis resmi. Dan memahaminya bisa mengubah cara kita (dan anak-anak kita) memandang Al-Quran selamanya.
Disunnahkan Untuk Membaca Alquran Dalam Keadaan Seperti Ini
Berikut ini beberapa sunnah yang bisa dilakukan saat membaca alquran:
1. Berdiri

Disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan berdiri, terutama karena posisi ini menyerupai adab Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama. Berdiri mencerminkan sikap hormat dan penuh perhatian terhadap kalam Allah.
Boleh dilakukan kapan saja di luar shalat, bahkan saat dalam perjalanan atau berjalan, selama kondisi memungkinkan untuk mengingat Allah secara terus-menerus.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
“Bacalah Al-Quran dengan suara yang merdu, sesungguhnya Allah menyukai orang yang membacanya dengan merdu.”
Hadis ini berlaku dalam berbagai posisi, termasuk berdiri, tanpa pembatasan tertentu.
2. Duduk

Kalau ditanya posisi terbaik, duduk adalah jawaban paling umum. Dan memang benar, disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan duduk karena posisi ini memberikan ketenangan dan memudahkan tartil (membaca dengan baik dan pelan).
Rasulullah SAW sering bertadarus bersama para sahabat dalam majelis duduk, sehingga kebiasaan ini menjadi sunnah yang sangat dianjurkan untuk tadarus harian.
Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Muzzammil ayat 20:
“Sesungguhnya bangun di malam hari adalah lebih tepat untuk doa dan bacaan Al-Quran, dan lebih benar bacaan itu.”
Para ulama menyebutkan bahwa qiyamul lail dan tilawah malam hari umumnya dilakukan dalam posisi duduk yang khusyuk.
3. Berbaring

Siapa yang nggak pernah baca Al-Quran sambil tiduran sebelum tidur malam? Ternyata, disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan berbaring, baik telentang maupun miring selama dalam kondisi suci dan tidak dalam keadaan junub.
Imam Nawawi menyebutkan bahwa membaca dari hafalan sambil berbaring pun diperbolehkan, meski tanpa wudhu ringan, selama mulut bersih.
Dalilnya kuat: dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim disebutkan, “Aku pernah berbaring di pangkuan Aisyah RA, beliau membacakan Al-Quran bagiku.” Ini menegaskan bahwa posisi berbaring bukan halangan untuk bertilawah.
Jadi, tidak perlu khawatir kalau kondisi fisikmu tidak memungkinkan duduk tegak, berbaring pun tetap bisa mendapat pahala tilawah insyaAllah.
Baca Juga: Membaca Alquran Setiap Hurufnya Dinilai Pahala. Simak Uraiannya
4. Setelah Berwudhu

Di antara semua adab, disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan sudah berwudhu adalah yang paling dianjurkan, bahkan termasuk sunnah muakkad. Berwudhu sebelum tilawah meningkatkan kekhusyukan dan mendatangkan keberkahan yang lebih besar.
Nabi SAW selalu menjaga kesucian fisik sebelum membaca Al-Quran, termasuk bersiwak (membersihkan mulut) agar bacaannya lebih bersih dan harum di hadapan Allah.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan: “Sesungguhnya para malaikat menyukai apa yang disukai oleh para pembawa bau wangi, dan mereka suka membersihkan mulutmu (dengan siwak) ketika membaca Al-Quran.”
Memang membaca Al-Quran tanpa wudhu (dalam keadaan hadats kecil) tetap diperbolehkan menurut mayoritas ulama. Tapi berwudhu dulu jauh lebih utama dan lebih sesuai adab.
5. Menghadap Kiblat

Disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan menghadap kiblat karena menciptakan rasa khidmat yang mirip dengan berdiri di hadapan Allah dalam shalat. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap kalam-Nya yang mulia.
Imam Nawawi dalam kitab At-Tibyan menyebutkan secara eksplisit bahwa di antara adab tilawah adalah: “Menghadap kiblat, menutup aurat dengan pakaian suci di tempat yang suci.”
Meski bukan syarat sah, menghadap kiblat saat tilawah, terutama dalam majelis tadarus atau saat tilawah khusyuk malam hari, sangat dianjurkan untuk membangun suasana hati yang lebih terhubung dengan Allah.
6. Setelah Makan

Nah, ini yang sering jadi pertanyaan. Apakah boleh membaca Al-Quran setelah makan? Jawabannya, ternyata boleh dan disunnahkan, selama mulut sudah dibersihkan terlebih dahulu. Dan bahkan idealnya dengan bersiwak atau berkumur.
Disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan setelah makan karena Al-Quran memang boleh dibaca kapan saja untuk tafakur dan dzikir kepada Allah. Yang perlu diperhatikan hanyalah kebersihan mulut, agar tidak mengurangi estetika bacaan dan kehormatan terhadap kalam Allah.
Dalilnya berasal dari keumuman sunnah Nabi SAW yang bertadarus hampir di setiap waktu, tanpa batasan khusus terkait waktu makan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi tentang keutamaan membaca Al-Quran kapan pun.
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi Saat Membaca Al-Quran
Meski sudah tahu kapan dan dalam keadaan apa disunnahkan membaca Alquran, ada baiknya kita juga mengenali kesalahan-kesalahan yang sering terjadi agar bacaan kita makin baik:
- Tidak konsisten dalam mad. Panjang bacaan mad sering berubah-ubah dalam satu ayat, kadang 2 harakat, tiba-tiba 4 harakat. Padahal mad wajib harus tepat 4–6 harakat sesuai aturan tajwid.
- Ghunnah terlalu singkat. Dengungan hidung pada huruf mim dan nun wajib 2 harakat. Sering dilewati saat membaca cepat, sehingga bacaan terdengar datar dan kehilangan keindahannya.
- Vokal salah karena pengaruh bahasa ibu. Harakat fathah (a) sering dibaca seperti “o” karena terpengaruh pelafalan bahasa Indonesia. Ini memengaruhi makhraj dan bisa mengubah makna.
- Memantulkan huruf sukun biasa. Huruf sukun yang bukan huruf qalqalah sering dipantulkan seperti qalqalah. Ini termasuk lahn jaliy ringan yang perlu diperbaiki.
- Mengganti huruf atau harakat. Misalnya membaca “كَثِيرْ” (banyak) menjadi “كَسِيرْ” (pecah). Kesalahan seperti ini bisa mengubah makna ayat dan termasuk dosa besar.
- Salah wakaf dan ibtida. Berhenti di tempat yang salah bisa mengubah makna ayat secara drastis. Misalnya berhenti di kalimat “Laa taqrabush shalaata” lalu melanjutkan dari awal. Maknanya jadi melarang shalat, padahal maksudnya: jangan shalat dalam keadaan mabuk.
Baca Juga: Jangan Asal Tilawah! Ini Etika Membaca Alquran Sesuai Sunnah
Ajak Anak-Anak Belajar Al-Quran Sejak Dini
Memahami bahwa disunnahkan untuk membaca alquran dalam keadaan apa pun, berdiri, duduk, berbaring, hingga setelah makan adalah bekal ilmu yang sangat berharga. Akan jauh lebih indah jika pemahaman ini sudah tertanam sejak dini, menjadi kebiasaan yang tumbuh bersama hafalan yang kuat dan adab yang benar.
Bayangkan jika anak-anak kita tidak hanya lancar membaca Al-Qur’an, tetapi juga paham bahwa membaca alquran bisa dalam keadaan yang beragam, sehingga mereka terbiasa dekat dengan Al-Qur’an dalam setiap momen kehidupan.
Untuk Ayah dan Bunda yang ingin memberikan fondasi terbaik, SD OSB School hadir sebagai pilihan yang tepat. Dengan pendekatan Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship, sekolah ini tidak hanya membentuk anak yang hafal Al-Qur’an, tetapi juga berakhlak mulia, percaya diri, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Jangan tunda lagi. Ini saat yang tepat untuk memberikan bekal terbaik bagi masa depan mereka. Daftarkan putra-putri Anda ke SD OSB School sekarang juga, dan wujudkan generasi Qurani yang membanggakan, baik di dunia maupun di akhirat.
