
Hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya tidak dibenarkan jika dilakukan dengan sengaja setelah mengetahui tajwid. Namun, orang yang masih belajar atau keliru tanpa sengaja tetap dianjurkan membaca sambil memperbaiki bacaannya.
Yuk, kita bahas santai tapi tetap jelas dan berdasar, supaya Ayah Bunda punya gambaran utuh sebelum mendampingi si kecil belajar mengaji.
Kenalan Dulu dengan Panjang Pendek dalam Bacaan Al-Qur’an
Dalam ilmu tajwid, urusan panjang pendek bacaan, memiliki nama khusus, yaitu hukum mad.
Sederhananya, mad adalah aturan yang menentukan berapa lama sebuah huruf harus dibaca memanjang.
Tanda-tandanya biasanya muncul lewat tiga huruf mad: alif (ا) setelah harakat fathah, wawu sukun (وْ) setelah dhammah, dan ya sukun (يْ) setelah kasrah.
Contoh gampangnya, kata قَالَ dibaca “qāla” dengan bunyi panjang, bukan “qala” yang pendek.
Ukuran panjangnya sendiri dihitung berdasarkan satuan harakat, atau bisa juga dibilang seperti ketukan.
Mad thabi’i atau mad asli biasanya dibaca dua harakat, sementara jenis mad lain bisa sampai empat, lima, bahkan enam harakat.
Jadi, panjang pendek bacaan ini bukan soal selera atau gaya membaca masing-masing orang, melainkan aturan baku yang sudah ditetapkan dalam ilmu tajwid.
Jadi, Bagaimana Hukum Membaca Alquran Tanpa Memperhatikan Panjang Pendeknya?
Secara umum, hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya adalah tidak dibenarkan, apalagi kalau dilakukan dengan sengaja dan meremehkan aturan tajwid.
Sebab, panjang pendek ini bukan hiasan semata, tapi bagian dari cara membaca Al-Qur’an yang benar sesuai kaidahnya.
Dalam hal ini, islam memberikan pengecualian. Bagi yang masih dalam proses belajar, belum mampu, atau keliru tanpa disengaja, kondisinya tentu berbeda dengan orang yang sudah tahu tapi sengaja mengabaikan.
Yang penting, proses belajarnya tetap berjalan dan bacaannya terus diperbaiki seiring waktu. Jadi, bagi yang masih terbata-bata dan panjang pendeknya belum pas, itu bagian normal dari proses belajar, bukan sesuatu yang perlu bikin panik.
Yang justru kurang tepat adalah sikap menyepelekan, misalnya sudah tahu caranya tapi terus-terusan membaca asal cepat tanpa mau memperbaiki diri.
Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya perlu dipahami bukan sekadar sebagai aturan kaku, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an itu sendiri.
Kaitannya dengan Perintah Membaca Secara Tartil
Ada satu ayat yang sering jadi rujukan soal ini, yaitu QS. Al-Muzzammil ayat 4:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
Kata “tartil” di ayat ini bukan cuma berarti membaca pelan, tapi juga mencakup ketepatan makhraj huruf, memperhatikan hukum tajwid termasuk panjang pendek, serta menjaga tempat berhenti dan memulai bacaan.
Ada juga ayat lain di QS. Al-Isra’ ayat 106 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur agar dibacakan kepada manusia dengan perlahan-lahan.
Dari dua ayat ini, jelas terlihat bahwa semangat membaca Al-Qur’an memang mengarah pada ketenangan dan ketelitian, bukan sekadar buru-buru menyelesaikan bacaan.
Apakah Panjang Pendek yang Salah, Bisa Mengubah Makna?
Jawabannya, bisa, tetapi tidak selalu. Dampaknya bergantung pada jenis kesalahan dan bagian bacaan yang keliru.
Dalam ilmu tajwid, kesalahan membaca Alquran secara umum dikenal sebagai lahn, yang terbagi menjadi lahn jali dan lahn khafi.
Lahn jali merupakan kesalahan yang jelas dalam membaca Alquran, misalnya mengubah huruf, harakat, atau lafaz hingga berpotensi mengubah makna.
Salah satu contoh sederhananya adalah kata قَالَ yang dibaca qāla. Jika bacaan panjang pada alif dihilangkan, lafaz tersebut tidak lagi dibaca sesuai dengan bentuk aslinya.
Sementara itu, lahn khafi adalah kesalahan yang lebih samar dalam penerapan tajwid. Misalnya, seseorang kurang tepat dalam menentukan kadar panjang bacaan mad, tetapi kesalahan tersebut tidak sampai mengubah arti kata atau ayat secara keseluruhan.
Dari sini dapat dipahami bahwa hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya perlu menjadi perhatian.
Tidak semua kesalahan panjang pendek langsung mengubah makna, tetapi tetap perlu diperbaiki agar bacaan semakin sesuai dengan kaidah tajwid dan terhindar dari kesalahan yang lebih serius.
Cara Memperbaiki Bacaan Panjang Pendek Alquran
Setelah memahami hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya, langkah berikutnya adalah mengetahui cara memperbaiki bacaan. Berikut cara-cara yang bisa dilakukan.
1. Kuasai Harakat Dasar

Sebelum mempelajari hukum mad, pastikan sudah mampu membedakan harakat dasar, yaitu:
- Fathah, menghasilkan bunyi a.
- Kasrah, menghasilkan bunyi i.
- Dhammah, menghasilkan bunyi u.
- Sukun, menunjukkan huruf mati.
- Tasydid, menunjukkan huruf dibaca rangkap atau lebih kuat.
Bacaan dengan harakat biasa umumnya dibaca pendek, sedangkan huruf yang memenuhi ketentuan mad perlu dibaca lebih panjang. Pemahaman dasar ini penting agar tidak sembarangan memanjangkan atau memendekkan bacaan.
2. Kenali Tiga Huruf Mad

Ada tiga huruf yang menjadi dasar bacaan mad, yaitu:
- Alif (ا) setelah fathah, seperti قَالَ.
- Wawu sukun (وْ) setelah dhammah, seperti يَقُولُ.
- Ya sukun (يْ) setelah kasrah, seperti قِيلَ.
Salah satu hukum mad yang paling dasar adalah mad thabi’i atau mad asli, yang dibaca sepanjang 2 harakat.
Untuk membiasakan diri membedakan panjang dan pendek, coba latihan berikut:
- قَ — pendek.
- قَا — panjang 2 harakat.
- قُ — pendek.
- قُو — panjang 2 harakat.
- قِ — pendek.
- قِي — panjang 2 harakat.
Latihan sederhana seperti ini dapat membantu membentuk kebiasaan membaca sesuai aturan, bukan berdasarkan perkiraan.
Baca Juga: Hukum Membaca Alquran Dengan Tartil Adalah? Ini Penjelasannya
3. Gunakan Ketukan yang Stabil

Saat membaca mad 2 harakat, gunakan hitungan yang konsisten. Misalnya, baca satu mad dengan dua ketukan dan pertahankan pola tersebut saat berlatih.
Jangan menentukan panjang bacaan hanya berdasarkan panjang napas. Harakat digunakan sebagai ukuran untuk membantu menjaga durasi bacaan tetap teratur.
Sementara itu, untuk mad yang dibaca 4, 5, atau 6 harakat, pelajari jenis mad dan cara membacanya bersama guru. Hal ini penting karena setiap hukum mad memiliki ketentuan masing-masing.
4. Belajar dari Ayat-Ayat Pendek

Agar lebih mudah, tidak perlu langsung berlatih dengan ayat yang panjang. Ambil satu atau dua ayat pendek, kemudian perhatikan hukum bacaannya.
Coba tandai:
- Bacaan yang pendek.
- Mad thabi’i 2 harakat.
- Mad wajib atau mad jaiz.
- Mad lazim jika ada.
- Tanda waqaf atau tempat berhenti.
Mushaf yang dilengkapi tanda tajwid warna juga dapat membantu mengenali hukum bacaan secara visual. Namun, tanda tersebut sebaiknya tetap dipelajari bersama cara membacanya agar tidak hanya mengandalkan warna.
Baca Juga: Ilmu yang Mempelajari Cara Membaca Alquran Adalah Apa? Ini Uraiannya
Jadi, Bagaimana Hukum Membaca Alquran Tanpa Memperhatikan Panjang Pendeknya?
Hukum membaca Alquran tanpa memperhatikan panjang pendeknya tidak boleh disepelekan, terutama jika dilakukan dengan sengaja setelah mengetahui aturan tajwid.
Namun, bagi yang masih belajar atau belum mampu membaca dengan sempurna, tidak perlu berkecil hati. Teruslah berlatih, membaca dengan tartil, dan memperbaiki bacaan secara bertahap agar semakin lancar dan tepat.
Mengenalkan Alquran sejak dini bukan hanya tentang membuat anak bisa membaca, tetapi juga membangun kebiasaan baik dan karakter yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Karena itu, Ayah dan Bunda tentu ingin memberikan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
SD OSB School hadir sebagai sekolah Islam yang mengintegrasikan nilai Quranic, Leadership, dan Entrepreneurship dalam pendidikan.
Anak tidak hanya dibimbing untuk dekat dengan Alquran, tetapi juga diarahkan menjadi pribadi yang berakhlak, percaya diri, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Yuk, Ayah dan Bunda, siapkan pendidikan terbaik untuk putra-putri tercinta bersama SD OSB School.
